Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 April 2017
Pak Ali Bolang, Berawal dari Kelincahan Tangannya Membentuk Rotan Menjadi Pengusaha Rotan
Abdoellah - Siang itu matahari masih diatas kepala. Mungkin sekitar jam setengah dua siang. Seorang pria paruh baya sedang asyik duduk di teras rumah bercengkrama dengan salah seorang tukang yang sedang merenovasi rumahnya. Mengenakan kaos olah raga panjang berwarna bergaris hitam di bagian lengan. Dan celana jeans kusam, menandakan bahwa beliau pria sederhana dan bijak.
Pak Ali biasa disapa. Tubuhnya agak langsing tapi dimatanya memancarkan semangat hidup yang kuat. Meski hanya berbekal ijazah SMP, hingga kini bapak yang memiliki satu putri dan satu cucu ini tetap kuat membentuk rotan menjadi berbagai bentuk. Dari ayunan bayi, vas bunga, tempat sampah, kursi lantai dan segala bentuk mampu dibuat walau hanya dengan melihat desainnya saja.
Tangannya terampil membengkokkan rotan. Kakinya lincah berputar mengikuti arah lekukan rotan. Matanya tetap tajam dan teliti bila mana didapati ada rotan yang salah masuk. Begitu seterunya hingga selesai.
“Setelah bahan siap, rotan lantas direndam beberapa menit. Ini dilakukan agar pada saat dilekukan rotan tidak patah. Setelah itu rotan mulai dibentuk. Satu persatu rotan dilekukan menurut keinginan hingga selesai. Setelah jadi, kerajinan akan dikompor untuk menghilangkan barangkali ada rotan-rotan kecil yang akan mengganggu keindahan kerajinan. Kemudian kerajian diamplas agar kesannya lebih halus. Langkah berikutnya memberi lem, agar antara rotan yang satu dengan yang lain tidak meregang. Memasuki tahap finishing, kerajinan diplitur,” jelasnya mengenai proses pembuatan kerajinan rotan.
Pak Ali menjadi salah satu anak yang mewarisi langsung keterampilan merajut rotan. Sebab, ia menjadi anak laki satu-satunya dalam keluarga. Karena dua adiknya perempuan.
Sebelum 1985, pak Bolang-Ayah pak Ali-adalah seorang pandai besi. Menurut cerita pak Ali, usaha pak Bolang cukup sukses. Banyak pesanan dari segala penjuru Sumbawa. Namun sejak 1985, pak Bolang beralih profesi menjadi pengrajin rotan. Keputusan ini terbilang tepat. Ternyata tidak hanya berdampak baik terhadap perekonomian keluarga pak Bolang, tetapi juga terhadap warga di sekitar pak Bolang. Mereka ikut pula membuat usaha kerjinan rotan. Namun entah dengan alasan apa, sekarang hanya kerajinan pak Ali saja yang masih bertahan.
Pak Ali sendiri tidak tahu, dari mana ayahnya mendapat keterampilan tersebut. Pokoknya, seingat pak Ali, semenjak duduk dibangku sekolah menengah pertama, ia sudah bergelut dengan rotan hingga sekarang. Atas kemampuannya ini, pak Ali mendapat tawaran dari bapak Bupati untuk magang di Jawa.
“kira-kira tahun 2003 saya sempat dikirim pak Bupati ke Cirebon, Kebumen hingga ke Jogjakarta untuk magang” ceritanya santai.
“Hal ini dilakukan untuk menambah wawasan saya. Agar kemampuan saya membentuk rotan semakin meningkat,” lanjutnya.
Tidak sia-sia. Jauh-jauh belajar di tanah Jawa, Pak Ali berhasil membuat beraneka bentuk kearjinan. Bahkan kerajinannya sudah dikirim ke berbagai daerah. Seperti Lombok, Bima, Sumbawa dan Alas. Namun permintaan justru lebih banyak dari lokal. Terutama di saat menjelang Ramadhan. Banyak menerima pesanan hingga enam set kursi. (satu set terdiri dari satu meja, satyu kursi panjang dan dua kursi pendek).
Dari Surabaya Hingga ke Balat
Dulu, setelah membeli rotan mentah di Hijrah, kecamatan Brang Ene, rotan lantas di kirim ke Surabaya untuk diubah bentuknya sesuai keinginan. Sangat lama prosesnya.
“Dulu kalau mau mengubah ukuran rotan harus ke Surabaya dulu. Ongkosnya Rp. 35.000/kg. Belum ongkos kirim,” kenangnya saat itu.
“Uangnya harus banyak. Minimal lima belas juta baru bisa belanja,” tambah Salmah, istri pak Ali penuh semangat.
“Kalau tidak dengan modal besar kami malu. Masa belanja jauh-jauh hanya satu juta” tuturnya berapi-api.
Namun kini setelah ada pemrosesan di Balat, banyak keuntungan di dapat. Tidak jauh-jauh lagi ke Surabaya. Terlalu panjang dan terlalu banyak biaya dikeluarkan.
“Sekarang kalau ada uang satu juta saja, kami bisa belanja” imbuh Salmah, perempuan asli kelahiran kampung Sampir.
Mimpi Bercita-cita Tinggi
Syukurlah, kehadiran tempat perubahan ukuran rotan di Balat, ongkos usaha bisa ditekan seminimal mungkin. Sehingga hasilnya memuaskan semua pihak. Baik pihak pemesan, karyawan hingga M. Ali Bolang sendiri. Keuntungan penjualan rotan diinvestasikan dengan membeli sawah. Hingga kini, katanya sawahnya sudah lebih dari satu hektar. Murni dari penjualan rotan.
Saat ditanya apa kiat khusus yang menjadikan kerajinannya kerap dipesan konsumen? Ia bilang tak ada kiat khusus. Yang penting jujur dan tetap sehat. Kalau tubuh sehat, semua akan berjalan sesuai harapan. Dan yang terpenting kehadiran lima orang karyawan memudahkannya dalam memproduksi pesanan.
“Mereka sangat membantu pekerjaan saya. ini karunia Allah yang patut saya syukuri” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Pak Ali juga tidak perhitungan. Jika ada pelajar atau anak muda yang ingin belajar, Ia dengan senang hati akan mengajarinya. Tanpa memungut biaya sepeserpun, gratis.
Pak Ali bersyukur, keterampilan merajut rotan menjadi sumber pendapatan utama bagi keluarganya. Ia berharap usahanya semakin berkembang. Tidak hanya pasar Nusa Tenggara tapi juga sampai ke tanah Jawa dan bahkan kalau bisa sampai keluar negeri. Sebuah harapan yang wajar mengingat di Kabupaten Sumbawa Barat, hanya Ia saja yang memproduksi.
Source : http://sosok-inspiratif.kampung-media.com
Minggu, 04 Desember 2016
Kisah Sukses "Pemilik" Aqua
Sebuah ruangan yang terdiri dari tiga lemari kayu, terpajang rapi berbagai produksi Aqua. Sebuah meja rapat bundar berukuran kecil dan meja kerja mengisi ruangan tersebut. Dari ruangan itulah Tirto Utomo mengawali lahirnya perusahaan Aqua pada 1973. “Meja ini merupakan meja yang digunakan pendiri,” kata Willy Sidharta, Presiden Direktur PT. Aqua Golden Missisippi Tbk.
Tirto Utomo, warga asli Wonosobo, mendirikan perusahaan air munum dalam kemasan (AMDK) karena ketika bekerja sebagai pegawai Pertamina di awal tahun 1970-an Tirto bertugas menjamu delegasi sebuah perusahaan Amerika Serikat. Namun jamuan itu terganggu ketika istri ketua delegasi mengalami diare yang disebabkan karena mengonsumsi air yang tidak bersih. Tirto kemudian mengetahui bahwa tamu-tamunya yang berasal dari negara Barat tidak terbiasa meminum air minum yang direbus, tetapi air yang telah disterilkan.
By:
Abdoellah Azzam
On 00.58
Kamis, 01 Desember 2016
Kisah Pengusaha Kecil Inspiratif di Tengah Krisis
Pengeras suara komputer di ruang kerja seukuran separuh lapangan badminton itu terus berbunyi: Tuing….tuing... Satu per satu pesan masuk ke akun pria muda itu. Sedikit kewalahan dia terus mencoba membaca cepat. Tak ada waktu selonjoran kaki.
Dalam hitungan menit, belasan pesanan sudah masuk ke akun pemuda itu di sebuah situs jual beli online, Bukalapak.com. Membalas pesanan yang masuk, membuat dahi pria muda itu sedikit berkeringat. Sebab, dibutuhkan kecepatan sekaligus kehatian-hatian saat menjawab. Tak boleh salah. Apalagi tertukar.
Pemuda itu bernama Sigit Nurdansyah Putra. Meski hari itu sudah merupakan akhir pekan, pria 31 tahun ini terus bekerja. Tak ada hari libur baginya.
Sabtu itu, 29 Agustus 2015, Sigit memang benar-benar kewalahan. Maklum tanggal muda. Banyak pegawai yang baru terima gaji. Pesanan pun membludak. Menjelang tengah hari, 30 transaksi jual beli kelar dibereskannya. Semua dia kerjakan seorang diri. Tak ada yang membantu.
" Ya begini ini mas kerja saya. Alhamdulillah pesanan lagi ramai," kata Sigit saat berbincang dengan Dream di rumahnya yang merangkap kantor, di Perumahan Kristal Garden, Cibinong, Bogor.
Barang yang dijualnya sebetulnya tak istimewa. Hanya aksesoris ponsel pintar seperti plastik antigores, baterai dan casing. Banyak yang menjual barang ini di emperan. Bedanya, yang dia jual kualitas premium. Alias asli bukan barang tiruan. Sigit pintar menjual barang yang tengah jadi tren. Tak heran, pemburunya sangat banyak.
Kini lapak online-nya selalu ramai pembeli. Berkat keluletan membesarkan bisnis e-commerce itu sejak Februari 2012, Sigit didaulat sebagai pedagang terlaris atau top seller di bukalapak.com.
Penghasilannya, tak lagi sama seperti saat jadi pegawai kantoran. Sejak tiga tahun melakoni bisnis jual beli virtual ini, Sigit sudah menyelesaikan 5.284 transaksi. Omzet pria bermuka 'ndeso' asal Ngawi ini sekarang sekitar Rp 200 juta per bulan! Luar biasa.
Keputusan Sigit menjadi pedagang terhitung nekat. Dengan jabatan yang sedang naik daun dan gaji cukup besar, Sigit memilih meninggalkan pekerjaannya. Menjadi pedagang aksesori telepon seluler.
Siapa nyana, pilihan ini menjadi jalan terbaik buatnya. Kebutuhan uang untuk membiayai pengobatan anaknya sebagai motivasi awal membuka lapak ternyata amat membantu.
***
Kisah hijrah Sigit dari pekerja kantoran menjadi pedagang online terjadi di waktu yang tepat. Tengok ke lapangan, ekonomi Indonesia tengah melemah. Banyak orang memilih menyimpan uang daripada membelanjakannya.
Ini kabar buruk bagi perusahaan. Siapa yang mau membeli barang mereka saat hampir semua orang mengetatkan uang belanja. Bagi pekerja ini tentu kabar buruk. Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bisa saja terjadi.
Sebenarnya bukan cuma Indonesia yang dilanda kecemasan. Hampir seluruh dunia mengalami. Dari seorang CEO, pakar ekonomi, hingga pedagang emperan semua membicarakan kesulitan ekonomi yang sedang menjalar di dunia bisnis.
Kecemasan pelan-pelan berubah menjadi ketakutan munculnya lagi Krisis Moneter 1998. Siapa yang mau kembali ke masa penuh kehancuran itu.
Puncak kecemasan terjadi ketika rupiah perlahan-lahan terpuruk. Mata uang Indonesia ini terjun bebas ke level Rp 14.000 per dolar AS. Sinyal buruk bergaung kencang.
Masih teringat pada tahun 1998, depresiasi rupiah mencapai 197 persen. Alhasil, rupiah yang biasa dijual sekitar Rp 2.000 per dolar, melayang ke posisi terendah Rp 16.650.
Tahun ini, Bank Indonesia (BI) menyebutkan rupiah telah melemah 9,8 persen sejak Januari sampai minggu pertama Agustus 2015. Bank sentral masih jumawa. Koreksi ini lebih baik dari Ringgit Malaysia yang turun 13,3 persen apalagi Real Brasil yang ambruk 29,4 persen.
Namun, bagi masyarakat awam, kurs rupiah saat ini dianggap sudah jatuh.
***
Di saat semua orang ketakutan pada ancaman krisis ekonomi, mereka yang tak mau pasrah dengan keadaan justru melawan. Kisah sukses Sigit di tengah badai ancaman krisis membuka sejarah lama 1998. Kala itu, Usaha Kecil Menengah (UKM) menjadi pahlawan. Mereka tak terhadang krisis. Bahkan, menyelamatkan perekonomian nasional.
Ketika industri tekstil yang 80 persen bergantung pada bahan baku impor banyak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan merumahkan pekerja, UKM menjadi bantalan sekaligus pintu keluar bagi pengangguran baru dari krisis ekonomi.
Kini, zaman telah berubah. UKM tak melulu soal produksi barang. Berkat kemajuan teknologi, masyarakat biasa bisa menjadi seorang pengusaha. Minimal mereka menjadi pebisnis, bukan lagi pekerja.
Sigit, seorang mantan pegawai kantoran telah hijrah menjadi pengusaha baru. Ya, pengusaha aksesoris ponsel. Dari menggantungkan gaji bulanan sebagai pemasukan, kini Sigit beralih menjadi penghasil uang. Sigit berhasil memanfaatkan kemajuan teknologi jual beli online sebagai peluang bisnis.
Harus diakui, Indonesia memang tengah keranjingan model bisnis jual beli online ini. Nama bekennya e-commerce. Nilainya bisa membuat orang yang mendengarnya kaget. Menteri Komunikasi & Informatika Rudiantara pernah menyebut nilai perdagangan melalui e-commerce akhir tahun ini bakal menembus US$ 18 miliar-20 miliar, atau setara Rp 254 triliun-Rp 283 triliun.
Bisnis ini sudah dua tahun terakhir menggurita. Dari hanya mencetak US$ 8 miliar pada 2013, bisnis e-commerce di Tanah Air tumbuh menjadi US$ 12 miliar pada 2014, setara Rp 170 triliun.
Dalam lima tahun ke depan, bisnis jual beli online ini ditaksir punya nilai lebih fantastis. Hampir US$ 100 miliar. Jika dirupiahkan Rp 1.417 triliun. Angka yang mengiurkan untuk memikat orang terjun ke bisnis ini.
***
Bukan hanya Sigit yang sukses terjun ke bisnis online. Dina Sri Agustin dan Briane Noviante Syukmita adalah dua wanita yang menikmati uang besar bisnis e-commerce.
Dina mungkin hanya menjual sebuah stiker dinding. Lewat e-commerce, perempuan kelahiran 1977 ini kini mengantongi omzet dari jual stiker itu hingga Rp 45 juta. Penghasilan kotornya saja Rp 16 juta per bulan.
Enam tahun bekerja sebagai pegawai di pulau seberang, Dina banting setir menjadi pedagang online. Sebelumnya, dia pernah menggarap bisnis Multi Level Marketing (MLM). Namun profesi baru ini gagal di tengah jalan.
“ Awalnya saya jualan lewat Facebook, juga lewat blog,” kata Dina yang mengaku kurang puas dengan pendapatan Rp 500 ribu per bulan.
Lain lagi cerita Novi. Meski menggenggam gelar sarjana filsafat dari univeritas negeri ternama, Novi enggan menjadi pekerja kantoran yang menunggu gaji bulanan.
Berbeda dengan Sigit dan Dina yang menjadi re-seller, istilah untuk penjual yang menjual barang orang, Novi justru menciptakan produk sendiri. Situs jual beli jadi lokasi pemasarannya.
Mengkreasikan kertas koran bekas, Novi mendirikan bisnis Dluwang Art. Bermodal Rp 500 ribu untuk memulai produksi awal, Novi kini menjadi bos dari dua orang pekerja. Bahkan saat order membludak, Novi bisa merekrut 30 pegawai paruh waktu.
" Harus tahan banting," pesan Novi untuk mereka yang ingin terjun ke dunia bisnis.
Sekali lagi, bisnis UKM memang kembali menunjukkan tajinya sebagai penyelamat. Menjadi pahlawan di saat banyak orang khawatir pada krisis ekonomi. Apalagi di zaman ketika bisnis online menjadi tumpuan. (eh)
By:
Abdoellah Azzam
On 20.19
Senin, 21 November 2016
Kisah Sukses "Pemilik" Samsung
Samsung adalah
salah satu penyedia terbesar di dunia teknologi. Dimulai sebagai
perusahaan perdagangan ekspor berbagai produk dari Korea Selatan ke
Beijing, Cina. Didirikan oleh Lee Byung-chul pada tahun 1938, Samsung
secara bertahap berkembang menjadi korporasi multinasional yang sekarang
ini.
Kata Samsung berarti "tiga bintang" di Korea. Hal ini menjadi nama yang
terkait dengan berbagai jenis dunia usaha di Korea Selatan dan di
berbagai bagian dunia. Secara internasional, orang mengasosiasikan nama
dengan elektronik, teknologi informasi dan pengembangan.
Sejarah
Samsung bermula pada tahun 1938 dimana Lee Byung-Chull (1910-1987)
berasal dari keluarga pemilik tanah yang luas di daerah Uiryeong datang
ke kota Daegu dan mendirikan Samsung Sanghoe, sebuah perusahaan
perdagangan kecil dengan empat puluh karyawan yang berlokasi di Su-dong
(sekarang Ingyo-dong). Perusahaan yang di bangun Lee mengalami kemajuan
dan ia memindahkan kantor pusatnya ke Seoul pada tahun 1947. Ketika
pecah Perang Korea, Lee terpaksa meninggalkan Seoul dan memulai
penyulingan gula di Busan sebagai nama Cheil Jedang. Setelah perang,
pada tahun 1954, Lee mendirikan Cheil Mojik dan membangun pabrik di
Chimsan-dong, Daegu sebagai pabrik wol.
Lee Byung-chull pendiri Group Samsung lahir 12 Februari 1910, meninggal
19 November 1987. Ia adalah putra dari keluarga kaya pemilik tanah dan
sempat mengenyam pendidikan perkuliahan di Universitas Wesda Tokyo
meskipun tidak sampai lulus. Lee Byung-chull menggunakan warisannya
untuk membuka penggilingan padi untuk usaha yang pertama. usaha itu
tidak berjalan dengan baik. Pada tahun 1938 Byung-Chull Lee mendirikan
perusahaan perdagangan ekspor di Korea, menjual ikan, sayuran, dan
buah-buahan ke Cina. Perusahaan berkembang dengan pesat dan Lee
memindahkan kantor pusatnya ke Seoul pada tahun 1947. Ketika pecah
Perang Korea, ia terpaksa meninggalkan Seoul dan memulai usaha pabrik
gula di Busan yang bernama Cheil Jedang. Dan itu adalah pabrik gula
Korea Selatan pertama.
Dari
tahun 1958 dan seterusnya Samsung mulai ekspansi ke industri lain
seperti keuangan, media, bahan kimia dan pembuatan kapal sepanjang tahun
1970-an. Pada akhir 60-an, Samsung Group mulai masuk kedalam industri
elektronik. Agar perusahaan bisa berkembang dengan pesat perusahaan
membagi tugas kerja dalam bentuk divisi-divisi elektronik, diantaran
Samsung Electronics Co Devices, Samsung Electro-Mekanika Co, Samsung
Corning Co, dan Samsung Semiconductor & Telecommunications Co, dan
membuat fasilitas di Suwon. Produk pertamanya adalah televisi
hitam-putih. Pada tahun 1980, perusahaan yang diakuisisi Hanguk tongsin
jeonja di Gumi, mulai membuat perangkat telekomunikasi. produk awal nya
adalah switchboards. Berawal dari produk tersebut samsung mulai
memproduksi telepon dan faks dan akhirnya menjadi Samsung's mobile phone
manufacturing. Dari pabrik tersebut Samsung telah menghasilkan lebih
dari 0,8 miliar ponsel sampai hari ini.
Pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, Samsung Electronics berinvestasi
dalam penelitian dan pembangunan, investasi sangat penting untuk
mendorong perusahaan ke garis depan dalam industri elektronik global.
Pada tahun 1980-an Samsung adalah perusahan manufaktur, distributor, dan
menjual berbagai macam peralatan dan produk elektronik di seluruh
dunia. Pada tahun 1982, ia membangun sebuah pabrik perakitan televisi di
Portugal. Pada tahun 1984, ia membangun sebuah pabrik senilai $ 25 juta
di New York. Dan pada tahun 1987, samsung membangun fasilitas lain
senilai $ 25 juta di Inggris.
Pada tahun 1969, Samsung Electronics memproduksi apa yang paling dikenal
dari Samsung Samsung saat ini yaitu Televisi, Mobile Phones (sepanjang
90-an), Radio, komponen Komputer dan perangkat elektronik lainnya.
1987 pendiri dan ketua, Lee Byung-Chull meninggal dan Kun-Hee Lee mengambil alih sebagai ketua. Pada tahun 1990-an Samsung mulai membangun pabrik memperluas secara global di Amerika Serikat, Britania Raya, Jerman, Thailand, Meksiko, Spanyol dan Cina sampai 1997.
Samsung mulai bangkit sebagai perusahaan internasional pada 1990-an.
cabang konstruksi Samsung mendapatkan kontrak untuk membangun satu dari
dua Petronas Towers di Malaysia, Taipei 101 di Taiwan dan Khalifa Burj
di Uni Emirat Arab. Pada tahun 1993., Lee Kun-hee menjual sepuluh anak
perusahaan Samsung Group, dirampingkan perusahaan, dan operasi lainnya
bergabung untuk berkonsentrasi pada tiga industri yaitu elektronik,
teknik, dan bahan kimia. Pada tahun 1996, Grup Samsung membeli kembali
Sungkyunkwan University foundation.
Pada
tahun 1997 hampir semua bisnis di Korea mengalami krisis besar dan
tidak terkecuali Samsung. Mereka menjual beberapa unit bisnisnya untuk
meringankan utang dan merumahkan karyawan menjadi 50.000 karyawan. Namun
berkat industri elektronik mereka berhasil untuk bertahan dan terus
berkembang hingga saat ini.
Dibandingkan dengan perusahaan besar Korea lainnya, Samsung selamat dari
krisis keuangan Asia tahun 1997 yang relatif tidak berpengaruh besar.
Namun, Samsung Motor dijual kepada Renault karena mengalami kerugian
yang signifikan. Pada tahun 2010, saham Renault Samsung 80,1 persen
dimiliki oleh Renault dan 19,9 persen dimiliki oleh Samsung. Selain itu,
Samsung memproduksi berbagai pesawat dari tahun 1980-an 1990-an.
Perusahaan ini didirikan pada tahun 1999 sebagai Korea Aerospace
Industries (KAI), hasil penggabungan antara lalu tiga divisi aerospace
domestik utama Samsung Aerospace, Daewoo Heavy Industries, dan Hyundai
Space dan Aircraft Company.
Samsung menjadi produsen terbesar memory chips di dunia pada tahun 1992,
dan pembuat chip dunia terbesar kedua setelah Intel. Sepuluh tahun
kemudian, Samsung tumbuh menjadi produsen terbesar di dunia membuat
panel layar liquid-crystal. Pada tahun 2006, S-LCD didirikan sebagai
perusahaan patungan antara Samsung dan Sony dalam rangka menyediakan
pasokan yang stabil dari panel LCD untuk mereka dan mengoperasikan
pabrik-pabrik serta membangun fasilitas di Tangjung, Korea Selatan.
Samsung
Electronics mengungguli Sony sebagai salah satu merek yang paling
populer di dunia konsumen elektronik pada tahun 2004 dan 2005. Dan kini
Samsung menjadi produsen ponsel pintar terbesar di atas Apple Inc. sekaligus produsen ponsel terbesar dunia di atas Nokia.
Keberhasilan Samsung sebagai sebuah penyedia teknologi terus berkembang
melalui delapan puluhan seperti Samsung Electronics telah bergabung
dengan Samsung Semikonduktor dan Telekomunikasi. Dengan cara ini diaspal
menuju terus kuat di pasar internasional dengan produk teknologi tinggi
yang akan menjadi pokok di setiap rumah. Perkembangan ini berlanjut
saat dekade berikutnya sebagai Samsung terus melampaui batas dan
restrukturisasi rencana bisnis untuk mengakomodasi adegan global.
Mengadopsi bentuk baru manajemen terbukti menjadi perpindahan yang
bijaksana bagi perusahaan sebagai produk berjalan mereka pada daftar
harus top-have dalam berbagai bidang mereka. TV-LCD, tabung gambar,
printer Samsung dan produk teknologi tinggi lainnya akuisisi menjadi
terkenal karena mereka berkualitas tinggi. Ketika Samsung berkelana ke
industri LCD pada tahun 1993, menjadi yang terbaik di dunia.
Metode yang sangat baik perusahaan pengendalian kualitas inilah yang membuatnya berhasil dalam menyediakan hanya produk terbaik untuk seluruh dunia. Ini berlaku sebuah "Berhenti Line" sistem dimana setiap orang bisa menghentikan proses produksi dalam hal bahwa produk ditemukan kurang lancar.
Untuk saat ini, terus Samsung mempertahankan statusnya sebagai operator
terbaik di dunia "itu" teknologi. Its tenaga kerja berkualifikasi tinggi
masih mengupayakan yang terbaik dalam bidangnya masing-masing membuat
keseluruhan perusahaan sukses besar dalam pembuatan. Rahasia sukses
terus perusahaan dalam peningkatan konstan struktur manajemen dan
penerapan filosofi-nya: "Kami akan mencurahkan sumber daya manusia dan
teknologi untuk menciptakan produk dan jasa, sehingga memberikan
kontribusi kepada masyarakat global yang lebih baik."
Sumber : ceritadanwarta.com
By:
Abdoellah Azzam
On 21.35
Jumat, 18 November 2016
Membangun Bukalapak dengan Modal mulai dari Nol
By:
Abdoellah Azzam
On 14.43
Selasa, 15 November 2016
8 Kisah Inspiratif Pengusaha Sukses Indonesia
Belakangan
ini banyak orang mulai lebih melirik dunia usaha ketimbang menjadi
karyawan suatu perusahaan. Kesuksesan finansial yang bisa diperoleh dari
membangun usaha sendiri mendorong orang untuk memilih memulai usaha
mereka sendiri. Banyak kisah sukses para pengusaha yang mulai dari nol
dan harus melewati jalan panjang dan berliku sebelum akhirnya meraih
kesuksesan yang bisa menjadi inspirasi bagi Anda yang ingin menjajal
dunia wirausaha. Di sini Anda bisa menyimak kisah sukses 8 orang
pengusaha dari tanah air yang berskala menengah hingga besar, tua maupun
muda, yang rata-rata memulai dari bawah dan serba sulit sebelum
mencapai kesuksesan yang sekarang.
1. Bob Sadino
Terlahir
di Lampung, 9 Maret 1939, mendiang pengusaha dengan nama lengkap
Bambang Mustari Sadino ini termasuk salah satu pengusaha sukses yang
sempat mengalami jatuh-bangun sebelum akhirnya menorehkan kesuksesan
besar. Setelah sekitar sembilan tahun menjadi pegawai, Bob memutuskan untuk berhenti dan banting setir menjadi pengusaha. Usaha
pertama yang dirintisnya adalah bisnis penyewaan mobil, dengan hanya
bermodalkan satu mobil Mercedes dan ia supiri sendiri.
Namun
karena musibah kecelakaan yang menimpanya saat mengemudikan mobil yang
disewakannya itu, bisnis itupun berhenti di tengah jalan. Tidak putus
semangat, ia kemudian beralih profesi sebagai buruh bangunan yang
dibayar dengan upah harian. Saat menjadi kuli tersebut, ia melihat
adanya peluang bisnis yang lain, bisnis ternak ayam dan telur ayam
negeri. Dengan modal pinjaman tetangganya, akhirnya Bob mulai
menjalankan bisnis tersebut. Awalnya, Bob menawarkan sendiri dagangannya
dari rumah ke rumah di wilayah sekitar tempat tinggalnya, terutama
kepada para ekspatriat, di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Bisnis
telurnya tersebut akhirnya berbuah manis dan ia mengembangkan sayap
dengan menjual daging dan sayuran hidoponik. Berkat keuletannya, bisnis
tersebut sukses dan ia pun mendirikan Kem-Chicks, supermarket ternama
yang menjual berbagai macam produk peternakan dan pertanian. Meski sudah
sukses, ia tetap tampil sederhana dan kerap kali melayani sendiri para
pelanggannya seperti keluarganya sendiri.
2. Susi Pudjiastuti
Perempuan
kelahiran 1965 yang sekarang menjabat sebagai Menteri Kelautan dan
Perikanan RI di bawah Presiden Jokowi ini adalah seorang pengusaha yang
terkenal tegas. Ia merintis bisnisnya di bidang perikanan dan kemudian
maskapai penerbangan dari nol. Setelah memilih untuk berhenti sekolah
sebelum lulus SMA, ia memulai usahanya sebagai pedagang pakaian dan bed cover.
Setelah melihat potensi wilayah tempat tinggalnya, Pangandaran, sebagai
penghasil ikan, Susi lantas memanfaatkannya sebagai peluang bisnis dan
beralih ke usaha perikanan. Dengan modal hanya Rp750 ribu hasil dari
menjual perhiasannya, ia mulai membeli ikan dari tempat pelelangan dan
memasarkannya ke sejumlah restoran. Setelah sempat tersendat, bisnis
Susi akhirnya berhasil menguasai bursa pelelangan ikan di Pangandaran
dan bahkan kemudian merambah ke ekspor ikan dan lobster.
Bisnis
maskapai penerbangannya juga berawal dari bisnis perikanan tersebut.
Untuk mengatasi masalah pengiriman ikan yang lambat apabila lewat darat
atau laut, Susi membeli sebuah pesawat dari pinjaman bank untuk
pengangkutan produk lautnya, yang kemudian berkembang menjadi armada
maskapai penerbangan Susi Air yang melayani rute pedalaman dan carter.
3. Reza Nurhilman
Bagi
yang belum mengenal nama ini, mungkin Anda lebih mengenal “kripik
setan” Maicih. Ya, Reza Nurhilman adalah nama pemuda yang berada di
belakang produk keripik singkong ekstra pedas yang populer itu. Reza
memulai bisnis keripik singkong ini pada pertengahan 2010 seorang diri
saat berusia 23 tahun dengan modal awal 15 juta rupiah. Untuk bisnisnya
ini, ia menggandeng satu produsen keripik lokal di Bandung.
Reza
mengawali bisnisnya ini dengan melakukan pemasaran sederhana, yakni
melalui platform media sosial, Twitter, sebelum mengembangkan sayap
dengan menerapkan sistem keagenan yang menggunakan istilah Jenderal agar
produknya bisa menggapai konsumen yang lebih luas. Para Jenderal ini
memasarkan produknya dengan cara berkeliling atau nomaden.
Pemuda kelahiran Bandung 28 tahun yang lalu ini mengaku kunci kesuksesannya terletak pada cara berpikirnya yang out of the box,
yaitu dengan tidak membuka toko seperti kebanyakan penjual sehingga
membuat produknya eksklusif. Melalui Twitter, para jenderal memberitahu
informasi lokasi penjualan setiap harinya. Cara pemasaran yang cukup
unik ini terbukti berhasil mengangkat nama Maicih di dunia maya. Baru
setengah tahun saja, omzet Maicih bisa mencapai Rp7 miliar per bulan.
Angka yang fantastis, bukan?
4. Sunny Kamengmau
Anda
pernah mendengar tas tangan merek Robita? Tas Robita yang begitu
populer di Jepang ini bahkan kabarnya menjadi idaman oleh semua kalangan
sosialita di negara sakura itu. Orang yang berada di balik 'dapur' tas
merek Robita ini adalah Sunny Kamengmau, pemuda asal Nusa Tenggara Timur
(NTT). Siapa sangka pemuda yang tidak pernah lulus SMA itu akhirnya
menjadi pengusaha sukses yang dapat menginspirasi siapa pun yang
mendengar kisahnya.
Sunny
mengawali bisnisnya dengan modal nekat. Setelah meninggalkan kampung
halamannya dan pergi ke Bali, ia bekerja sebagai tukang sapu di sebuah
hotel. Selang beberapa lama ia pun diangkat menjadi satpam karena
dianggap memiliki etos kerja yang bagus. Selama itu, ia juga
memanfaatkan waktunya untuk belajar bahasa Inggris dan bahasa Jepang.
Gaji pertamanya ia sisihkan untuk membeli kamus dua bahasa asing
tersebut dan mempelajarinya dengan tekun. Keberuntungan mungkin memang
berada di pihaknya sejak awal ia dipekerjakan di hotel tersebut, karena
di sana ia berkenalan dengan seorang pengusaha asal Jepang yang kemudian
memintanya untuk memasok tas kulit ke negaranya. Meski sempat terseok
untuk beberapa lama, bahkan hampir kehilangan semua penjahit tas yang
bekerja untuknya, Sunny perlahan bisa bangkit dan bisnis tasnya itupun
kian diperkokoh hingga mampu memiliki 100 orang karyawan.
5. Gibran Rakabuming
Saat
ini nama Gibran Rakabuming mungkin sudah dikenal oleh hampir seluruh
masyarakat Indonesia, di luar fakta bahwa ayahnya, Joko Widodo, adalah
seorang presiden negara republik Indonesia. Gibran adalah pemilik sebuah
bisnis di bidang catering dan wedding organizer dengan nama Chili Pari.
Sebelum
menjabat menjadi Walikota Solo, kemudian Gubernur DKI jakarta, dan
akhirnya Presiden RI, ayahnya, Joko Widodo merupakan pengusaha mebel.
Namun, Gibran memilih untuk merintis usaha sendiri tanpa campur tangan
ayahnya. Ia memulai usahanya dengan mengajukan pinjaman ke bank untuk
modal. Meski sempat ditolak beberapa kali, akhirnya ia mendapatkan
persetujuan dari salah satu bank dan dengan modal pinjaman tersebut ia
pun memulai Chili Pari dengan melayani pesanan partai kecil. Berkat
kemampuan dan keuletannya sendiri, sekarang Chili Pari sudah banyak
menangani order besar dengan jumlah tamu hingga ribuan orang dan usaha
Gibran pun semakin berkembang.
6. Nicholas Kurniawan
Nama
Nicholas Kurniawan mungkin belum terlalu familiar di telinga Anda,
namun saat ini di usianya yang masih sangat belia, 20 tahun, ia sudah
sukses menjadi eksportir ikan hias termuda di Indonesia. Semua berawal
dari kondisi keluarganya yang terpuruk dan terlilit utang, dan Nicholas
pun berniat untuk mengubah nasibnya. Sempat mencoba berbagai bisnis
mulai dari asuransi, makanan, MLM, dan mainan, jatuh bangun dan bahkan
sempat tidak naik kelas saat kelas 2 SMA, ia mulai bangkit kembali dan
mencoba peruntungannya dengan menjual ikan hias secara online melalui
situs Kaskus. Meski sempat beberapa kali ditipu oleh calon pembeli,
bisnis ikan hias Nicholas kini sudah menjangkau luar negeri dan dalam
sebulan omzetnya bisa mencapai lebih dari Rp100 juta.
7. Hamzah Izzulhaq
Pemuda
kelahiran 1993 ini sudah membuktikan diri sebagai pengusaha muda yang
sukses. Sejak kecil, ia sudah terlihat memiliki bakat berbisnis, yakni
dengan berjualan kelereng, petasan, hingga koran. Ia juga pernah menjadi
tukang parkir dan ojek payung. Saat tengah mengikuti seminar bisnis
pelajar ketika masih duduk di bangku SMA, Hamzah ditawari usaha waralaba
bimbingan belajar oleh seorang pemuda yang juga masih muda namun sudah
memiliki bimbingan belajar dengan 44 cabang. Dengan bermodal uang Rp5
juta dan pinjaman Rp70 juta dari ayahnya, ia membeli salah satu cabang
yang kebetulan ditawarkan untuk diambilalih seharga Rp175 juta. Sisanya
yang sebesar Rp100 juta dibayar dengan dicicil dari keuntungan setiap
semester. Usahanya itu semakin berkembang, dan kini Hamzah sudah
memiliki 3 lisensi waralaba bimbel dengan jumlah siswa di atas 200 orang
setiap semester. Sejak akhir 2011, bisnis Hamzah telah resmi berbadan
hukum dengan nama CV Hamasa Indonesia. Pemuda 22 tahun ini menjabat
sebagai direktur utama.
8. Yasa Singgih
Terlahir
dari keluarga biasa-biasa saja, anak kelahiran 1995 ini memutuskan
untuk terjun ke dunia bisnis sejak sangat belia. Sejak berusia 15 tahun,
setelah ayahnya terkena serangan jantung dan harus dioperasi, ia mulai
mencari uang sendiri dengan menjadi pembawa acara di berbagai acara
ulang tahun dan musik. Selain itu, masih di usia yang sama, ia mulai
berbisnis online dengan menjual lampu hias, namun tidak bertahan lama
karena persoalan pemasok. Setahun kemudian, di usia 16 tahun, Yasa
beralih ke bisnis mode. Sempat jatuh bangun dan diremehkan orang, hingga
rugi ratusan juta rupiah dari berbagai bisnis, sebelum akhirnya ia
berhasil membangun brand pakaian sendiri dengan mengusung nama
Mens Republic. Selain itu, ia juga mengelola usaha konsultasi manajemen
bernama MS Consulting serta kompleks perumahan dalam bentuk kavling
tanah di Bogor.
Anda pun Bisa Jadi Pengusaha Sukses
Bagaimana,
sangat inspiratif bukan? Memang banyak yang mengatakan tidak semua
orang punya bakat jadi pengusaha, namun menilik dari kisah-kisah di
atas, dapat disimpulkan bahwa kesuksesan merupakan hasil dari kerja
keras, bukan murni dari bakat. Semoga
kisah-kisah inspiratif para pengusaha sukses di atas dapat Anda petik
hikmahnya dan menjadi suatu motivasi bagi Anda untuk mencoba sendiri
terjun di dunia usaha yang tak ada batasnya ini. Semoga Anda pun bisa
menjadi pengusaha yang sukses seperti mereka!
Source : cermati.com
By:
Abdoellah Azzam
On 00.02
Langganan:
Postingan (Atom)



















